Orang Jahat

Semenjak kecil, saya sering membaca tabloid Nova. Hal ini karena ibu suka sekali membaca tabloid ini dan langganan tiap minggunya, bahkan hingga saat ini. Di halaman-halaman terakhir Nova, selalu terpampang beberapa artikel tentang cerita sedih dan seringnya berbau kriminal. Mulai dari pembunuhan, penculikan, pemerkosaan & pelecehan seksual, pencurian, kecelakaan, bencana alam, dll. Kemudian setelah bertahun-tahun membaca Nova, saya menyadari satu hal, terutama di artikel yang menceritakan kejadian kejahatan dan kriminal. Sering kali keluarga korban di artikel tersebut menyatakan jika korban itu adalah orang yang baik, sepertinya tidak punya musuh dan mereka akhirnya heran sekali kenapa bisa terjadi peristiwa keji pada si korban. Dulu, saya hanya manggut-manggut dan berpikir “ah, orang jahat itu berbahaya ya. Tega banget, Orang baik kok sampe di giniin.”

Tapi kemudian, ketika saya sudah makin dewasa (dan tua hahaha), mendadak saya menyadari satu hal. Tidak sepenuhnya orang itu baik saja atau jahat saja. Ada sisi jahat yang terlihat dari orang baik. Ada sisi baik yang terlihat dari orang jahat. Atau simbolisnya, gak ada sisi hitam saja atau sisi putih saja. Ada sisi abu-abu di tiap orang. Mirip sama judul blog saya yang lain, haha 😛

Contoh dari sisi baik yang terlihat dari orang jahat: beberapa tahun lalu ketika masih kuliah, saya ambil mata kuliah Psikologi Forensik. Salah satu tugas dari matkul ini adalah wawancara dengan napi atau warga binaan di sebuah Lembaga Pemasyarakatan. Jujur saja pada awalnya saya merasa agak takut dan deg-degan. Walaupun sebelumnya saya sering wawancara dengan beragam orang dengan beragam latar belakang, tapi tetap saja…rasanya beda. Tapi akhirnya ketika hari H datang dan melakukan wawancara berkelompok dengan 2 orang warga binaan, ternyata rasanya tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya.

Mereka ramah ketika menyambut kami, menjawab pertanyaan dan bercerita dengan baik, bahkan kadang bercanda dengan kami. Begitu kami akan pulang dan berpamitan, mereka juga berpesan untuk hati-hati di jalan (saya masih ingat perkataan mereka, “hati-hati ya, neng!”), menegur temannya yang menggoda kami, mengantar kami sampai ke perbatasan antara kantor dengan sel tempat mereka tinggal. Setelah wawancara itu saya mendapat pencerahan bahwasanya napi atau warga binaan itu tidak sekejam atau sejahat yang kita bayangkan selama ini. Terkadang aksi kejahatan mereka pun terjadi karena faktor ketidaksengajaan. Dari hasil wawancara, ada yang bilang kalau mereka dalam keadaan mabuk ketika melakukan kejahatan atau mereka berada dalam waktu dan tempat yang salah ketika terjadi tindak kejahatan sehingga mereka dipidana. Pada akhirnya mereka tetap punya sisi baik, yang mungkin kita tolak untuk lihat, karena label mereka sebagai narapidana atau mantan narapidana.

Kemudian, contoh sisi jahat dari orang baik. Ah, ini bahkan lebih simpel. Menurut saya, orang baik itu terkadang punya sisi jahat yang tidak mereka sadari. Kok bisa? Ya bisa, karena mereka tidak menyadari jika perkataan, perbuatan, atau tindakan mereka jahat untuk orang lain. Hal kecil saja, pertanyaan simpel dan basa-basi seperti “kapan lulus?” “skripsi kapan kelar?” “kapan kerja?” “kerja dimana?” “kapan nikah?” terkadang bikin orang tertentu sakit hati. Gak percaya? Ah, pasti kamu masih kecil. Karena hanya orang usia 20an yang bakal ngerasa seperti ini hahaha. Untuk beberapa orang, mungkin pertanyaan itu tidak sampai membuat sakit hati. Mungkin hanya sampai level mengganggu saja. Tapi untuk beberapa orang yang hal sekecil apapun selalu dipikirkan (contohnya saya, hahaha), pertanyaan semacam itu lama-lama bikin sakit hati dan membuat saya malas untuk bergaul dengan orang-orang.

Kemudian misalnya lagi, ada orang yang punya “hobi” membicarakan orang lain. “Hobi” semacam itu, percayalah, sangat sulit dihilangkan haha. Tanpa sadar dia suka sekali membicarakan orang lain, dari hal-hal baik hingga keburukan orang tertentu bahkan hingga ke hal-hal yang sebenarnya tidak dimiliki atau dilakukan. Teruus saja dibicarakan. Hingga akhirnya orang yang dibicarakan tahu dan merasa tidak nyaman. Kita tidak tahu seperti apa perasaan atau hati seseorang. Bisa jadi ia hanya kesal atau tidak nyaman. Bisa jadi ia sakit hati atau bahkan dendam!

Bayangkan jika sakit hati atau dendam itu lama-lama menumpuk dan pada akhirnya booom! Meledak. Bisa terjadi tindakan yang tidak bisa dikontrol oleh logika, seperti tindakan kriminal. Hingga pada akhirnya, “orang-orang baik” itupun menjadi korban kejahatan dan keluarga korban tidak paham kenapa “orang baik dan tidak punya musuh” bisa menjadi korban tindak kejahatan.

See? Semudah itu jadi orang jahat. Jadi, hati-hati. Orang jahat itu bukan sekedar orang yang merampok, membunuh, mencuri, memerkosa, mengorupsi uang rakyat. Tapi bisa saja kamu. Dengan perkataanmu, perbuatanmu, dan tindakanmu. Waspadalah. Waspadalah.

 

Kutoarjo, 29 September 2015

20:20 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s